PT. PANJI WIRA SURYA MANDIRI

PANJI merupakan produsen Dolomite, Kapur Pertanian, Calcium Carbonate, Hydrated Lime, Quick Lime dan Clay. Lokasi Pabrik dan Gudang berada di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Info dan Pemasaran : 0852-6591-8610
Tampilkan postingan dengan label Dolomit Halus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dolomit Halus. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2020

PENGELOLAAN BAU YANG DIKELUARKAN KOTORAN AYAM

 PENGELOLAAN BAU YANG DIKELUARKAN KOTORAN AYAM


Bau yang ditimbulkan dari peternakan ayam di akibatkan pembersihan kandang yang tidak maksimal dan berasal dari kotoran ayam

Pada peternakan ayam, kapur digunakan untuk membersihkan lantai kandang, mengeringkan, dan mengurangi bau dari kotoran ayam. Bantuan kapur utama yang dipakai adalah Calcium Carbonate (CaCO3) type MS, Dolomite Halus PANJI, Hydrated Lime dan Quick Lime

Mengurangi dampak negatif bau yang ditimbulkan dari usaha peternakan ayam dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain :
1. Kandang disterilkan menggunakan 3 jenis kapur dibawah ini :
    a.  Dolomite Halus GK atau Dolomite Halus PANJI yang mengandung MgO 18-23% dan  
         CaO +/- 30% 
    b.  Hydrated Lime yang mengandung CaO 75%
    c.  Quick Lime yang mengandung CaO 95 %

    Fungsi dari ketiga jenis kapur di atas adalah untuk mensterilkan kandang dari bakteri,  
    kuman dan telur lalat.


2. dengan membubuhkan Calcium Carbonate (CaCO3) type MS, baik sebagai imbuhan  
    pakan maupun ditambahkan pada kotoran. 
    Calcium Carbonate (CaCO3) type MS digunakan untuk mengurangi pencemaran gas 
    amonia dan F12S pada kotoran ayam. 


3. Calcium Carbonate (CaCO3) type MS yang ditambahkan ke dalam pakan untuk 
    mengurangi pembentukan gas amonia dan hidrogen      sulfida dari kotoran ayam.
    Penggunaan konsentrasi  Calcium Carbonate (CaCO3) type MS  memberi 
    kemungkinan yang besar dalam menurunkan  pembentukan gas amonia dan hidrogen 
    sulfida. 



Nilai Tambah Penggunaan Calcium Carbonate (CaCO3) type MS pada Peternakan Ayam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kapur pada kotoran ayam dapat mengurangi pelepasan gas amonia dan H2S secara nyata,, pH kotoran menjadi lebih tinggi, namun masih dalam kisaran 7,77‑8,42. 

Penggunaan Calcium Carbonate (CaCO3) type MS pada kotoran ayam selain mengurangi pencemaran amonia ke udara juga memberikan kualitas kotoran ayam sebagai pupuk organik.
Sebagai pupuk organik dengan konsentrasi nitrogen 4,96 mg/g bobot kering atau 0,496%, masih termasuk kualitas pupuk organik yang baik. 

Pupuk organik yang berasal dari kotoran ayam mempunyai kandungan unsur hara yang beragam, akan tetapi ditetapkan suatu kesimpulan bahwa unsur hara yang terdapat dalam pupuk organik atau pupuk kandang rata‑rata. 0,5% nitrogen; 0,25% P205; dan 0,5% K20. 

Pupuk  kandang dengan kandungan unsur hara seperti konsentrasi tersebut di atas sudah dikatakan  berkualitas baik.


Info dan Pemasaran : 0852 6591 8610

Kamis, 11 Juni 2020

Proses Pengerasan / Stabilisasi Tanah menggunakan Kapur

Pengertian stabilitas tanah kapur Stabilitas tanah kapur yaitu mencampur tanah dengan kapur dan air pada lokasi pekerjaan di lapangan untuk merubah sifat-sifat tanah tersebut menjadi material yang lebih baik yang memenuhi ketentuan sebagai bahan konstruksi yang diijinkan dalam perencanaan. Kapur bereaksi dengan air tanah sehingga merubah sifat tanahnya, mengurangi kelekatan dan kelunakan tanah. Sifat ekspansif yang menyusut dan berkembang karena kondisi airnya akan berkurang secara drastis karena butir kapur. Jenis – jenis Kapur Ada beberapa jenis kapur antara lain : • Dolomite yang mengandung Magnesium Oxide 18-22% dan CaO 50% • Calcium Carbonate yang mengandung CaCO3 86%-97,5% • Quick Lime( kapur tohor (CaO) )adalah hasil pembakaran batu kapur pada suhu ± 90°C, dengan komposisi sebagian besar Kalsium Karbonat (CaCO3) yang mengandung CaO 95% • Hydrated Lime atau kapur padam adalah hasil pemadaman kapur tohor dengan air, sehingga membentuk hidrat [Ca(OH)2]. Mekanisme dasar stabilisasi dengan kapur : 1. Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang menyebabkan bertambahnya ikatan antara partikel tanah. 2. Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga kekuatan geser/daya dukung tanah menjadi naik) 3. Stabilitas tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk tanah lempung dan tidak efektif untuk tanah pasir Material yang diperlukan pada stabilitas tanah kapur : 1. Kapur Berdasarkan SNI 03-4147-1996 Kapur yang digunakan sebagai bahan stabilisasi tanah adalah kapur padam dan kapur tohor. 2. Tanah • Efektif digunakan pada tanah lempung yang plastisitasnya tinggi. • Membuat struktur tanah jadi rapuh sehingga mudah dipadatkan dengan konsekuensi nilai kepadatan maksimum menjadi turun 3. Air • Air yang digunakan adalah air yang tidak mengandung asam. • Air laut boleh digunakan tapi tidak boleh mengalami kontak dengan lapisan aspal Spesifikasi Persyaratan untuk Kapur 1. Calcium oxide (CaO) kandungan Ca & MgO > 92 % 2. CO2 (oven) < 3 % ; CO2 (lap) < 10 % 3. Calcium Hidroxide (Ca(OH)2) kandungan Ca & MgO > 95 % 4. CO2 (oven) < 5 % ; CO2 (lap) < 7 % STABILISASI TANAH DENGAN KAPUR UNTUK JALAN Bahan dan Peralatan yang Digunakan : Persyaratan bahan adalah sebagai berikut : 1) tanah yang akan distabilisasi dengan kapur adalah tanah yang berkohesi, berbutir halus atau lempung yang sama dengan yang direncanakan di laboratorium sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang Tata Cara Perencanaan Stabilisasi Tanah dengan Kapur; 2) kapur yang akan digunakan sebagai bahan stabilisasi di lapangan adalah sama dengan jenis kapur yang digunakan dalam perencanaan campuran stabilisasi tanah dengan kapur di laboratorium. Peralatan yang digunakan harus layak pakai . Alat penghampar, yaitu : 1) tangki air; 2) alat pemadat; 3) alat bantu. Peralatan Peralatan yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : 1) alat pencampur untuk pencampuran tanah dan kapur serta air di lapangan dapat digunakan salah satu dari alat-alat berikut ini: alat-alat pertanian, yaitu : alat pencampur pupuk alat pemecah tanah dan alat pembajak tanah; alat pembentuk mekanik; pencampur berjalan yaitu : alat pencampur menerus dan tempat pencampur berjalan; pengaduk rotor: cangkul mekanik atau sekop mekanik; 2) alat pembentuk permukaan tanah; 3) alat penghampar, yaitu : truk jangkit; alat penyebar mekanik; alat manual. 4) tangki air yang dilengkapi distributor untuk menyiram pekerjaan selama pencampuran dan pemadatan; 5) alat pemadat, yaitu : pemadat roda karet 10 – 12 ton; pemadat roda tandem 8 – 10 ton. 6) alat bantu, yaitu : penggaruk; sekop; roda dorong dan alat bantu lainnya yang diperlukan. Persiapan di Lapangan Persiapan di lapangan, sebagai berikut : 1) tanah dasar yang akan distabilisasi harus dibersihkan dari kotoran dan bahan organis serta bahan yang tidak dikehendaki serta dijaga kelembabannya; 2) sebelum diberi kapur untuk dicampur, tanah dipecah dan digemburkan terlebih dahulu dengan alat yang sesuai dengan jenis tanah yang akan digemburkan; 3) air yang digunakan harus bersih tidak mengandung asam, alkali, bahan organik, minyak, sulfat dan klorida di atas nilai yang diijinkan sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana Stabilisasi Tanah dengan Kapur. Percobaan Lapangan Pencampuran kadar kapur yang sudah direncanakan di laboratorium, diperiksa dengan faktor efisiensi pencampuran di lapangan dengan ketentuan sebagai berikut : 1) rumus untuk menghitung faktor efisiensi, yaitu : F.E = Kekuatan bahan yang dicampur di lapangan kekuatan bahan yang dicampur di laboratorium . . . . . . . . . . (1) Keterangan : Kekuatan bahan, diuji dengan pengujian kuat tekan bebas. 2) faktor efisiensi hubungannya dengan alat pencampuran, yaitu : alat pembentuk mekanik : 40 – 50%; alat pencampur rotor : 60 – 80%; instalasi pencampur : 80 – 100%. 3) percobaan lapangan dilaksanakan dengan membuat jalur percobaan minimum sepanjang 200 meter. 4) selama percobaan harus dilakukan hal-hal, sebagai berikut : kegemburan tanah; faktor efisiensi; derajat kepadatan yang dicapai oleh alat pemadat; efektifitas alat pencampur; cara perawatan. Pemadatan Ketentuan pemadatan, sebagai berikut : 1) tebal padat setiap lapisan 15 – 20 cm, jumlah lintasan untuk tebal lapisan padat disesuaikan dengan ruas percobaan; 2) panjang maksimum pemadatan disesuaikan dengan kapasitas produksi dan kemampuan peralatan pemadatan; 3) pemadatan harus mencapai 95% kepadatan laboratorium; 4) bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang akan disambung dan sudah dipadatkan harus dipotong tegak lurus dan roda pemadat tidak menggilas bagian yang sudah dipadatkan terlebih dahulu sewaktu menggilas bagian yang baru; 5) selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah dengan kapur sebaiknya dilakukan dalam cuaca hangat. Perawatan dan Perlindungan Ketentuan perawatan dan perlindungan, sebagai berikut : 1) lapisan stabilisasi tanah dengan kapur harus dirawat untuk mencegah kehilangan kadar air yang diperlukan untuk berhidrasi dengan cara memberi penutup selama 4 hari; 2) selama masa perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan kapur tidak boleh dilewati lalu lintas atau alat-alat berat. Pengendalian Mutu Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu stabilisasi tanah dengan kapur yang meliputi : 1) pemeriksaan kerataan; 2) pemeriksaan penggemburan; 3) pemeriksaan pencampuran; 4) pemeriksaan kepadatan; 5) pemeriksaan ketebalan; 6) perawatan. Pemeriksaan Kerataan Pemeriksaan kerataan, sebagai berikut : 1) kerataan tanah harus diperiksa setiap jarak 25 meter dengan menggunakan mistar pengukur kerataan panjang 3 m; 2) ketidakrataan di bawah mistar yang diijinkan, yaitu 1,5 cm; 3) bagian yang lemah seperti terlalu basah atau kurang padat harus diperiksa secara visual dan ditangani menurut ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan Penggemburan Pemeriksaan penggemburan dapat dilakukan dengan mengambil satu contoh tanah yang sudah diproses untuk setiap 2 m2; proses kegemburan dapat dikontrol dengan rumus : PK = A/B x 100% . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2) Keterangan : PK = proses kegemburan A = berat kering tanah yang lolos saringan tanah No. 4 B = berat kering total contoh (tidak termasuk kerikil yang tertahan saringan No. 4). Pemeriksaan Pencampuran Pemeriksaan pencampuran, sebagai berikut : 1) keseragaman bahan setelah pencampuran dapat dilakukan secara visual; 2) membuat galian ke arah melintang dengan ketebalan setebal hamparan setiap 50 m; 3) bila hasil dari penelitian visual, campuran telah menunjukkan keseragaman yang baik maka contoh dapat diambil untuk dilakukan pengujian untuk mencari faktor efisiensi dari pencampuran. Pemeriksaan Kepadatan Pemeriksaan kepadatan, sebagai berikut : 1) kepadatan harus diperiksa minimal satu titik untuk setiap 500 m2; 2) dilakukan dengan memakai alat kerucut pasir, silinder tekan atau gelembung balon karet bila masih kurang padat maka lintasan harus ditambah seperlunya. Pemeriksaan Ketebalan Pemeriksaan ketebalan, sebagai berikut : 1) ketebalan hasil stabilisasi tanah dengan kapur harus diperiksa pada setiap jarak 50 m; 2) tebal padat stabilisasi tanah dengan kapur yang sudah selesai tidak boleh kurang dari 1,25 cm dari tebal rencana. Perawatan Selama waktu perawatan perlu dilakukan pengamatan kelembaban secara periodik setiap 24 jam, selama waktu perawatan. CARA PENGERJAAN Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan kapur di lapangan, sebagai berikut : 1. siapkan tanah yang akan distabilisasi untuk pencampuran stabilisasi tanah lempung dengan kapur dilakukan di tempat;
2. gemburkan tanah yang akan distabilisasi sesuai dengan sub bab 3.2; hamparkan kapur yang akan dicampur secara merata dengan cara manual atau dengan alat penyebar mekanik, sesuai dengan yang dibutuhkan apabila pencampuran dilakukan di lokasi setempat;
3. aduk kedua bahan sampai merata, selama pengadukan dapat ditambahkan air bila diperlukan dan pemberian air dilakukan secara bertahap sampai memenuhi ketentuan yang berlaku;
4. sesuaikan dengan yang direncanakan dan kemampuan alat pencampur tebal campuran di lapangan sebelum dipadatkan, yaitu 30 cm lepas;
5. padatkan tanah pada butir dengan menggunakan pemadat roda karet atau yang sejenis sesuai dengan ketentuan Sub Bab 3.3;
6.lakukan pemadatan dari tepi menuju ke tengah sejajar sumbu jalan pada bagian yang lurus; sedangkan pada tikungan dilakukan dari bagian yang rendah ke bagian yang tinggi sejajar sumbu jalan, demikian pula pada tanjakan, pemadatan dilakukan dari bagian yang rendah menuju ke tempat yang tinggi sejajar sumbu jalan;
7. lakukan pemadatan awal dengan pemadat roda karet; pada lintasan pertama roda penggerak dari mesin penggilas ditempatkan di depan; setelah pemadatan awal jika masih perlu diratakan dan dibentuk, dipakai alat pembentuk mekanik;
8. lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda tandem, setelah kerataan memenuhi persyaratan; 9. periksa kepadatannya dan ukur tebal lapisan padat setelah minimum 4 lintasan; usahakan konstruksi lapisan campuran tidak menjadi kering, selama pelaksanaan dan selama masa perawatan; lakukan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung; pengamatan kelembaban dilakukan untuk menentukan efektivitas cara perawatan yang digunakan. Info dan Pemasaran : 085265918610 Pencampuran kadar kapur yang sudah direncanakan di laboratorium, diperiksa dengan faktor efisiensi pencampuran di lapangan dengan ketentuan sebagai berikut : 1) rumus untuk menghitung faktor efisiensi, yaitu : F.E = Kekuatan bahan yang dicampur di lapangan kekuatan bahan yang dicampur di laboratorium . . . . . . . . . . (1) Keterangan : Kekuatan bahan, diuji dengan pengujian kuat tekan bebas. 2) faktor efisiensi hubungannya dengan alat pencampuran, yaitu : alat pembentuk mekanik : 40 – 50%; alat pencampur rotor : 60 – 80%; instalasi pencampur : 80 – 100%. 3) percobaan lapangan dilaksanakan dengan membuat jalur percobaan minimum sepanjang 200 meter. 4) selama percobaan harus dilakukan hal-hal, sebagai berikut : kegemburan tanah; faktor efisiensi; derajat kepadatan yang dicapai oleh alat pemadat; efektifitas alat pencampur; cara perawatan.
Pemadatan Ketentuan pemadatan, sebagai berikut : 1) tebal padat setiap lapisan 15 – 20 cm, jumlah lintasan untuk tebal lapisan padat disesuaikan dengan ruas percobaan; 2) panjang maksimum pemadatan disesuaikan dengan kapasitas produksi dan kemampuan peralatan pemadatan; 3) pemadatan harus mencapai 95% kepadatan laboratorium; 4) bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang akan disambung dan sudah dipadatkan harus dipotong tegak lurus dan roda pemadat tidak menggilas bagian yang sudah dipadatkan terlebih dahulu sewaktu menggilas bagian yang baru; 5) selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah dengan kapur sebaiknya dilakukan dalam cuaca hangat. Perawatan dan Perlindungan Ketentuan perawatan dan perlindungan, sebagai berikut : 1) lapisan stabilisasi tanah dengan kapur harus dirawat untuk mencegah kehilangan kadar air yang diperlukan untuk berhidrasi dengan cara memberi penutup selama 4 hari; 2) selama masa perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan kapur tidak boleh dilewati lalu lintas atau alat-alat berat. Pengendalian Mutu Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu stabilisasi tanah dengan kapur yang meliputi : 1) pemeriksaan kerataan; 2) pemeriksaan penggemburan; 3) pemeriksaan pencampuran; 4) pemeriksaan kepadatan; 5) pemeriksaan ketebalan; 6) perawatan. Pemeriksaan Kerataan Pemeriksaan kerataan, sebagai berikut : 1) kerataan tanah harus diperiksa setiap jarak 25 meter dengan menggunakan mistar pengukur kerataan panjang 3 m; 2) ketidakrataan di bawah mistar yang diijinkan, yaitu 1,5 cm; 3) bagian yang lemah seperti terlalu basah atau kurang padat harus diperiksa secara visual dan ditangani menurut ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan Penggemburan Pemeriksaan penggemburan dapat dilakukan dengan mengambil satu contoh tanah yang sudah diproses untuk setiap 2 m2; proses kegemburan dapat dikontrol dengan rumus : PK = A/B x 100% . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2) Keterangan : PK = proses kegemburan A = berat kering tanah yang lolos saringan tanah No. 4 B = berat kering total contoh (tidak termasuk kerikil yang tertahan saringan No. 4). Pemeriksaan Pencampuran Pemeriksaan pencampuran, sebagai berikut : 1) keseragaman bahan setelah pencampuran dapat dilakukan secara visual; 2) membuat galian ke arah melintang dengan ketebalan setebal hamparan setiap 50 m; 3) bila hasil dari penelitian visual, campuran telah menunjukkan keseragaman yang baik maka contoh dapat diambil untuk dilakukan pengujian untuk mencari faktor efisiensi dari pencampuran. Pemeriksaan Kepadatan Pemeriksaan kepadatan, sebagai berikut : 1) kepadatan harus diperiksa minimal satu titik untuk setiap 500 m2; 2) dilakukan dengan memakai alat kerucut pasir, silinder tekan atau gelembung balon karet bila masih kurang padat maka lintasan harus ditambah seperlunya. Pemeriksaan Ketebalan Pemeriksaan ketebalan, sebagai berikut : 1) ketebalan hasil stabilisasi tanah dengan kapur harus diperiksa pada setiap jarak 50 m; 2) tebal padat stabilisasi tanah dengan kapur yang sudah selesai tidak boleh kurang dari 1,25 cm dari tebal rencana. Perawatan Selama waktu perawatan perlu dilakukan pengamatan kelembaban secara periodik setiap 24 jam, selama waktu perawatan. CARA PENGERJAAN Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan kapur di lapangan, sebagai berikut : 1.siapkan tanah yang akan distabilisasi untuk pencampuran stabilisasi tanah lempung dengan kapur dilakukan di tempat;
2. gemburkan tanah yang akan distabilisasi sesuai dengan sub bab 3.2; hamparkan kapur yang akan dicampur secara merata dengan cara manual atau dengan alat penyebar mekanik, sesuai dengan yang dibutuhkan apabila pencampuran dilakukan di lokasi setempat;
3. aduk kedua bahan sampai merata, selama pengadukan dapat ditambahkan air bila diperlukan dan pemberian air dilakukan secara bertahap sampai memenuhi ketentuan yang berlaku;
4.sesuaikan dengan yang direncanakan dan kemampuan alat pencampur tebal campuran di lapangan sebelum dipadatkan, yaitu 30 cm lepas;
5. padatkan tanah pada butir dengan menggunakan pemadat roda karet atau yang sejenis sesuai dengan ketentuan Sub Bab 3.3;
6. lakukan pemadatan dari tepi menuju ke tengah sejajar sumbu jalan pada bagian yang lurus; sedangkan pada tikungan dilakukan dari bagian yang rendah ke bagian yang tinggi sejajar sumbu jalan, demikian pula pada tanjakan, pemadatan dilakukan dari bagian yang rendah menuju ke tempat yang tinggi sejajar sumbu jalan;
7. lakukan pemadatan awal dengan pemadat roda karet; pada lintasan pertama roda penggerak dari mesin penggilas ditempatkan di depan; setelah pemadatan awal jika masih perlu diratakan dan dibentuk, dipakai alat pembentuk mekanik; lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda tandem, setelah kerataan memenuhi persyaratan;
8. periksa kepadatannya dan ukur tebal lapisan padat setelah minimum 4 lintasan;
usahakan konstruksi lapisan campuran tidak menjadi kering, selama pelaksanaan dan selama masa perawatan;
9. lakukan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung; pengamatan kelembaban dilakukan untuk menentukan efektivitas cara perawatan yang digunakan. Info dan Pemasaran : 085265918610

Jumat, 10 Maret 2017

Penyakit PHYTOPHTHORA / Busuk Batang

  
Salam Tani...............

Penyakit busuk Phytophthora pada tanaman cabai sebenarnya memiliki posisi yang setara dengan penyakit layu Fusarium, layu bakteri, ataupun antraknosa. Hanya saja, lantaran sering luput dari perhatian, akhirnya keberadaannya sering tidak terkontrol, hingga menimbulkan dampak yang fatal bagi para petani sendiri.Phytophthora telah dikenal sebagai salah satu cendawan atau jamur patogen yang mampu menimbulkan kerusakan parah pada hampir semua bagian tanaman cabai. Lantaran itu pula, cendawan ini sering disebut sebagai plant destroyer of capsicums atau perusak tanaman cabai-cabaian.

Meskipun dikenal sebagai perusak utama tanaman cabai, Phytophthora juga memiliki beragam tanaman inang lainnya, terutama dari keluarga Solanaceae (misalnya: tomat dan terong) dan Cucurbitaceae (misalnya: mentimun, semangka, dan melon).

Bagian tanaman yang diserangnya pun juga beragam, mulai dari akar, batang, hingga buah cabai. Alhasil, dampak kerusakannya juga bisa lebih fatal jika tidak segera diantisipasi sejak dini. Di saat masih berupa bibit, tanaman cabai yang terserang penyakit ini bisa langsung mati. Sementara pada tanaman dewasa dampaknya seluruh bagian tanaman itu akan layu, busuk, dan mati.

Keberadaan penyakit busuk Phytophthora pada tanaman cabai itu justru sering terabaikan oleh para petani. Akibatnya, begitu ada serangan, tidak sedikit petani yang akhirnya tidak siap untuk melakukan upaya pengendalian lantaran kurangnya pengetahuan tentang penyakit tersebut.

“Selama ini perhatian petani cabai kita lebih banyak kepada penyakit layu Fusarium, layu bakteri, dan antraknosa. Sementara untuk penyakit karena Phytophthora ini kurang mendapat perhatian dan antisipasi,” 

Cendawan Phytophthora sendiri memang menghendaki kondisi lingkungan yang basah dan hangat untuk berkembang biak. Suhu idealnya sekitar 80 0F atau sekitar 26 0C. Dengan kondisi seperti itu, spora jamur yang terbentuk akan berkembang lebih cepat, yang berarti pula penularan penyakit ini juga akan lebih cepat.

Selain karena kondisi lingkungan yang hangat dan basah, patogen Phytophthora juga mudah menyebar melalui angin, air hujan atau air yang mengalir di atas permukaan tanah. 
Kondisi tanah yang basah juga menjadi pemicu perkembangan patogen tersebut. Pasalnya, patogen ini mampu bertahan di dalam tanah dan menginfeksi akar atau biji yang tumbuh di dalam tanah.

Penyebaran patogen ini juga bisa melalui peralatan yang digunakan selama bercocok tanam. Selain itu, pemindahan tanah dari satu lahan ke lahan yang lain juga bisa menjadi perantara pindahnya patogen Phytophthora.

Kenali gejalanya

Meskipun habitat utamanya ada di dalam tanah, cendawan Phytophthora sendiri bisa menginfeksi hampir seluruh bagian tanaman cabai, mulai dari akar, batang, daun, hingga buah. Dampak serangannya pun bisa sangat hebat, petani cabai bisa mengalami kehilangan hasil hingga 100% jika serangan patogen ini tidak terkendali.

Tanaman cabai yang terserang penyakit ini umumnya menunjukkan gejala layu yang berlangsung cepat sebagai akibat dari busuknya akar dan atau titik tumbuh tanaman. Jika diamati, akar tanaman cabai yang terserang itu akan tampak kecokelatan dan lembek.

Bagian daun yang terserang akan menunjukkan gejala berupa munculnya bercak berwarna cokelat. Bercak itu akan meluas hingga terlihat seperti tersiram air panas. Daun itu sendiri pada akhirnya akan busuk dan rontok yang dimulai dari bagian daun paling bawah. Serangan busuk tersebut akan terus menjalar ke bagian bawah tanaman dan menyerang kuncup bunga yang ada, hingga seluruh bagian atas tanaman cabai layu terkulai.

Pada bagian batang, serangan patogen ini akan membuat batang tanaman membusuk, kering, dan kulitnya mudah terkelupas. Jika sudah seperti ini, tanaman akan lebih cepat mati.

Sementara pada buah cabai, serangan cendawan Phytophthora akan memunculkan bercak coklat kebasah-basahan yang cepat meluas hingga menyebabkan buah itu terlepas dari tangkainya atau rontok. Pada bagian yang terinfeksi tersebut juga tampak adanya hifa yang berwarna putih keabu-abuan dan bentuknya seperti kapas atau benang-benang halus.

Pengendalian sejak dini 

Mengingat Phytophthora capsici relatif mudah tersebar melalui jaringan tanaman yang telah terinfeksi dan juga tanah yang terkontaminasi, oleh karena itu diperlukan upaya antisipasi dan pengendalian sejak dini. 
Upaya preventif bisa dilakukan dengan cara :
1.  Sanitasi lingkungan tanam atau membersihkan lahan dari segala macam kontaminasi, seperti membuang dan memusnahkan semua tanaman yang telah terinfeksi, serta membersihkan gulma yang ada di sekitar tanaman cabai.

2. Pengapuran lahan yang benar dengan menggunakan Dolomite Halus 100 Mesh sebelum penanaman.   Patogen Phytophthora tersebut bisa menular melalui tanah yang terinfeksi, sehingga pemberian Dolomite Halus 100Mesh untuk meningkatkan pH tanah dan membunuh bakteri dan fungi (jamur) pada tanah. pH tanah dibawah 6 akan membuat bakteri dan jamur hidup dan berkembak biak.  Selain itu, upaya pergiliran tanaman dengan jenis tanaman yang bukan inang, seperti: jagung, padi, atau kacang-kacangan, juga bermanfaat untuk memutus siklus hidup patogen Phytophthora.

3.   Pergunakan varietas tanaman yang tahan (resisten) terhadap serangan penyakit tersebut. Mungkin masih belum banyak varietas tanaman cabai yang memiliki sifat genetis seperti itu.

4.   Aplikasi fungisida yang lebih intensif di musim hujan. Kalau hujan terus menerus, bisa disemprot dengan interval tiga hari sekali atau tujuh hari sekali. Fungisida yang digunakan juga harus yang khusus untuk Phytophthora.


Untuk penggunaan fungisida konsultasikan dengan Petugas Penyuluhan Lapangan di tempat .

Untuk pertanyaan silahkan kunjungi Group Facebook : https://www.facebook.com/groups/1706005199727731/



ANTRAKNOSA (PATEK)


Salam tani.....

Apa itu penyakit antraknosa/patek?
Apa penyebab antraknosa/patek?

Penyakit antraknosa adalah penyakit yang disebabkan jamur  serangan Colletotrichum capsici (pada cabai). Jamur Colletotrichum capsici ini berkembang pesat pada lingkungan yang lembab dan basah. Kondisi ini tentu lebih banyak ditemui pada saat musim hujan berlangsung.

Sebenarnya tak hanya di musim hujan, serangan antraknosa juga bisa menyerang tanaman saat musim kemarau apabila kondisinya memungkinkan, misalnya saat ada fenomena kemarau basah.

Penyakit antraknosa umumnya menyerang pada hampir semua bagian tanaman, mulai dari ranting, cabang, daun dan buah. Fase serangannya pun mulai sejak fase perkecambahan, fase vegetatif (pertumbuhan) sampai fase generatif (pembuahan).

Cara kerja dari jamur Colletotrichum capsici adalah dengan jalan menginfeksi dinding sel tanaman. Pada fase perkecambahan serangannya menyebabkan tanaman gagal berkecambah. Sedangkan pada saat fase generatif menyebabkan buah yang akan masak dan hendak dipanen menjadi busuk dan mengering.

Penyakit antraknosa ini memiliki tanaman inang yang cukup beragam. Selain pada cabai atau tomat, tanaman yang menjadi inang dari penyakit antraknosa ini antara lain paprika (sweet pepper), semangka, buah naga, melon, timun, bawang merah, buncis, dan mangga.

GEJALA  ANTRAKNOSA

Pada buah ada tanda bercak melingkar, cekung bewarna coklat pada pusatnya serta bewarna coklat muda pada sekeliling lingkarannya.
Pada perkembangannya, bercak tersebut akan meluas kemudian menyebabkan buah membusuk, kering dan jatuh.

Penyebaran jamur Colletotrichum capsici dibantu oleh air dan angin, sehingga akan menyebar dengan cepat ke bagian buah yang lain yang belum terinfeksi.

Bagaimana pengendalian antraknosa/patek?

Pengendalian penyakit antraknosa ini bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain :

1.Lahan diperiksa keasaman atau pH tanahnya dengan menggunakan pH meter atau kertas lakmus. pH optimum untuk tanaman cabe adalah
6,5. Jika keasaman tanah kurang dari 6,5, lakukan pengapuran dengan dolomite yang mengandung MgO dan Cao.
Cara yang paling sederhana dalam menentukan kebutuhan dolomite ialah dengan menghitung selisih antara pH tanah yang dituju dengan pH tanah aktual (pH tanah berdasarkan hasil pengujian dan analisis) dikali 2000 kg DOLOMITE HALUS PANJI 100 MESH perhektar (untuk menaikan 1 point ph tanah diperlukan 2000 dolomite sudah baku).
Contoh :
 Diketahui : pH aktual 5
 pH yang dituju 6,5
 Jawab : 6,5 -5 x 2000 kg
 Hasilnya : 3000 kg/hektar
artinya untuk menaikan pH dari pH sebelumnya 5 menjadi 6,5 dalam satu hektar luas lahan diperlukan 3000 kg DOLOMITE HALUS PANJI 100 MESH.

2. Pencegahan dan antisipasi antraknosa/patek, dilakukan dengan cara memperkuat ketahanan tanaman. Untuk memperkuat ketahanan tanaman perlu dilakukan pemupukan yang tepat dan berimbang. Tanaman yang kebutuhan nutrisinya terpenuhi secara seimbang (N, P, K) maka tanaman tersebut akan lebih tahan terhadap serangan jamur.

3. Jika tanaman sudah terserang, cara mengatasi antraknosa/patek yaitu melakukan pengendalian dengan fungisida. Fungisida  yang digunakan untuk mengendalikan antraknosa/patek berdasarkan cara kerjanya dibedakan menjadi 2 yaitu kontak dan sistemik :
Cara kerja kontak : mankozeb, propineb, klorotalonil, tembaga hidroksida.
Cara kerja sistemik : benomil, metalaksil, dimetomorf, siprokonazol, difenokonazol, tebukonazol, azoksitrobin, karbendazim.

4. Tambahkan pupuk yang mengandung unsur kalsium (Ca) tinggi.seminggu sesudah penanaman Unsur Ca adalah unsur utama penyusun dinding sel tanaman. Pemberian kalsium membuat dinding sel buah lebih kuat dan lebih susah ditembus oleh jamur Colletotrichum capsici. Pemberian kalsium dilakukan dengan cara memberikan Calcium Carbonate (Kapur Pertanian) sebanyak 2 – 3 sdm per batang sebelum pemupukan dan lakukan penyemprotan seminggu sesudah pemupukan dengan dosis 100 gram per 16-20 liter air.


Catatan Penting…!
1. Jangan mencampur fungisida yang cara kerja nya sama, misal mankozeb+propineb, hal ini selain efektifitasnya tidak bertambah justru boros biaya.
2. Bahan aktif di atas merk nya bermacam-macam, saat anda ke toko pertanian anda cukup menanyakan fungisida bahan aktif mana yang anda inginkan. Dan jangan terpacu pada merk, karena merk yang terkenal harganya cenderung mahal. Disisi yang lain merk yang kurang terkenal, hasilnya efektif walau harganya jauh lebih murah.
3. Untuk hasil yang efektif, lakukan mixing antara fungisida kontak dan sistemik
Sampai disini dulu ya bahasan tentang Penyakit Antraknosa, Penyebab, Gejala serta Cara Pengendaliannya. Semoga artikel yang singkat ini bermanfat buat teman” tani semua.

Jangan lupa untuk membagikan ke saudara, sahabat dan teman anda yang lain agar bisa memberikan manfaat yang lebih.

Untuk tanya jawab silahkan kunjungi group Facebook : https://www.facebook.com/groups/1706005199727731/

PENGAPURAN LAHAN




Pada umumnya petani sering merupakan hal paling dasar dalam pertanian.
Apakah itu ? "PENGAPURAN LAHAN"

Ada apa dengan "PENGAPURAN LAHAN" ?

Pengapuran lahan pertanian sangat penting di dalam menentukan proses pertumbuhan tanaman

Tujuan dari pengapuran pada intinya dalah bagaimana supaya tanah memiliki pH yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kelarutan Al dalam tanah dapat ditekan dan mematikan bakteri di dalam tanah yang tidak berguna atau merugikan tanaman.

Masing" masing tanaman memiliki kebutuhan pH tanah yang berbeda-beda.
Masalah tanah masam sangat kompleks.
Mulai dari kandungan hara hingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Masalah yang umumnya terjadi pada tanah masam antara lain :
 1. Terakumulasinya ion H+ pada tanah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.
 2. Tingginya kandungan Al3+ sehingga meracuni  tanaman.
 3. Kekurangan unsur hara Ca dan Mg
 4. Kekurangan unsur hara P karena terikat oleh Al3+
 5. Berkurangnya unsur Mo sehingga proses fotosintesis terganggu
 6. Keracunan unsur mikro yang memiliki kelarutan yang tinggi pada tanah asam.

Cara pengapuran sendiri yang sesuai dengan rekomendasi pengapuran adalah :
 1. Tanah diolah baik itu dicangkul atau dibajak.
 2. Dolomite ditabur merata diatas permukaan tanah, dengan dosis Dolomite sesuai dengan kebutuhan tanaman
 3. Tanah diaduk hingga kedalaman 20 cm dibiarkan selama 2 minggu (untuk tanaman palawija) dan 2 bulan untuk (tanaman keras) baru kemudian ditanami.

Manfaat Dolomite yang diberikan kedalam tanah adalah :
1.Menurunkan pH tanah 2.Menurunkan kelarutan Al
3. Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg.
4.Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapkan agregat tanah 5.Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanah yang mantap 6.Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organism
7. Mematikan bakteri atau organisma yang merugikan tanaman
8. Menetralisir sisa-sisa zat yang merugikan tanaman akibat pemupukan yang berlebihan dan penggunaan
pestisida yang berlebihan
9. Mengembalikan zat hara yang dibutuhkan tanaman



Apabila pengapuran lahan dilakukan dengan baik dan benar serta di periksa keasaman atau pH tanah pada setiap musim penanaman, dapat mengurangi penggunanan pupuk yang berlebihan dan tanaman tidak mudah di serang penyakit.

Agar pengapuran lahan dapat terlaksana dengan baik pergunakan pupuk dolomiite yang memiliki kehalusan 100 mesh. Tujuannya dolomite dapat meresap dengan cepat ke tanah dan menaikan pH tanah dengan cepat.

Pergunakan pupuk yang telah memiliki SNI yang dikeluarkan Badan Standarisasi Nasional

Info dan pemasaran : 0852 6591 8610

FUNGSI DOLOMITE DAN AKIBAT KEKURANGAN MAGNESIUM (Mg)



Fungsi Utama Magnesium (Mg)

Sebelum melangkah ke permasalahan kekurangan Magnesium (Mg), sangat manusiawi kiranya kalau kita memahami dulu peran atau fungsi dari Magnesium (Mg) itu sendiri untuk tanaman.

Fungsi Dolomite yang diberikan kedalam tanah adalah :
1. Menaikankan pH tanah
2. Menurunkan kelarutan Al
3. Meningkatkan kandungan unsur hara Ca dan Mg.
4. Memperbaiki tekstur, struktur dan memantapkan agregat tanah
5. Menurunkan tingkat bahaya erosi karena agregat tanah yang mantap
6. Memperbaiki sifat biologi tanah seperti aktivitas mikro organism.
7. Mematikan bakteri atau organisma yang merugikan tanaman
8. Menetralisir sisa-sisa zat yang merugikan tanaman akibat pemupukan yang berlebihan dan penggunaan pestisida yang berlebihan
9. Mengembalikan zat hara yang dibutuhkan tanaman  
 
Gejala Umum Kekurangan Magnesium (Mg)

Kekurangan Magnesium (Mg), seperti halnya kekurangan unsur hara lainnya, berpengaruh pada perolehan hasil panen. Kekurangan Magnesium (Mg) juga menyebabkan tanaman lebih rentan dan lemah terhadap serangan penyakit.
Karena magnesium selalu bergerak di dalam jaringan tanaman, gejala defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) muncul pertama kali pada daun yang lebih rendah atau daun lebih tua. 

Gejala pertama kekurangan Magnesium (Mg) adalah 
1. Daun pucat, kemudian kekuningan, klorosis antar vena (urat daun). 
2. Urat-urat daun mungkin masih hijau namun bagian-bagian di sekitarnya menjadi menguning 
3. Pada beberapa jenis tanaman, kekurangan Magnesium (Mg) memunculkan bintik-bintik kemerahan atau ungu pada daun. Meskipun begitu, ekspresi gejala kekurangan Magnesium (Mg) sangat bergantung pada intensitas cahaya yang diserap oleh daun. 
4. Tanaman yang kurang tersinari cahaya matahari akan menunjukkan gejala defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) yang lebih parah.   
 
Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Magnesium (Mg)

Lantas, kenapa bisa sampai terjadi defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg)? Apa sih penyebabnya? 
Padahal mungkin sahabat Tani sudah melakukan penaburan cukup banyak bahan yang mengandung Magnesium (Mg) ke lahan, katakanlah dolomit. Kenapa masih kekurangan Magnesium (Mg)?

Defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) sebetulnya bukan semata rendahnya kandungan Magnesium (Mg) di dalam tanah atau minimnya kita memberi suplai Magnesium (Mg) ke media tanam/tanah, namun di sana juga ada sejumlah faktor yang mempengaruhi ketersediaan Magnesium (Mg) yang bisa diserap oleh tanaman. 

Faktor-faktor tersebut yang paling dominan adalah:
1. pH tanah yang rendah atau kondisi tanah asam – pH tanah yang rendah diketahui memicu kekurangan Magnesium (Mg) karena ketersediaan Magnesium (Mg) menurun, dan sebaliknya pH tanah yang tinggi meningkatkan ketersediaan Magnesium (Mg).
2. Rasio Magnesium (Mg) : Mangan (Mn) di dalam tanah yang tidak ideal.
Ketahuilah bahwa saat Mangan (Mn) ketersediaannya cukup tinggi di dalam tanah, kondisi ini dapat langsung mengurangi penyerapan Magnesium (Mg) oleh tanaman, maka terjadilah defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg).
Kompetisi kation – Tanah dengan tingkat Kalium (K) atau Kalsium (Ca) tinggi biasanya akan memberikan sedikit Mg pada tanaman
3. Aplikasi kation yang tinggi: tingkat aplikasi yang tinggi kation lainnya, terutama K, dapat mengurangi penyerapan Magnesium (Mg). Kasus ini paling umum terjadi pada rumput dan jagung.
4. Suhu tanah yang rendah.


 
Solusi Saat Kekurangan Magnesium (Mg)

Defisiensi atau kekurangan Magnesium (Mg) jelas merupakan gangguan yang merugikan tanaman, dan kasus ini paling sering terjadi pada tanah dengan keasaman yang kuat, atau tanah berpasir di mana Magnesium (Mg) dapat dengan mudah tercuci oleh air. Magnesium (Mg) merupakan nutrisi makro penting yang ditemukan sekitar 0,2-0,4% bahan kering dan diperlukan untuk terciptanya pertumbuhan tanaman yang normal. 

Sekarang, bagaimana solusinya saat sahabat Tani menemukan gejala defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) pada tanaman budidayanya?

Tidak usah panik, karena tanaman dengan defisiensi/kekurangan Magnesium (Mg) dapat kita perbaiki dengan beberapa usaha, yakni:
1. Lakukan pengapuran lahan dengan baik dan benar menggunakan Dolomite PANJI yang memiliki tingkat kehalusan 100 Mesh.
Pengapuran Dolomite Halus PANJI dilakukan sesuai dengan kebutuhan pH tanah.
2. Lakukan pemeriksaan keasaman tanah atau pH tanah.

Mengapa harus menggunakan dolomite dengan kehalusan 100 mesh ?
Dengan menggunakan dolomite dengan kehalusan 100 mesh mempercepat terserapnya dolomite ke dalam tanah dan mempercepat reaksi dolomite di dalam tanah.

Catatan : Mesh adalah ukuran dari jumlah lubang suatu jaring atau kasa pada luasan 1 inch persegi jaring/kasa yang bisa dilalui oleh material padat. Mesh 20 memilki arti terdapat 20 lubang pada bidang jaring/kasa seluas 1 inch, demikian seterusnya. Ukuran mesh banyak digunakan pada proses penepungan atau penghalusan suatu bahan padatan, yang sebelum dihaluskan memiliki ukuran yang lebih besar. Pabrik semen, tepung makanan, industri metalurgi, dan pabrik powder kosmetik, menggunakan ukuran mesh dalam proses produksi nya

Mudah-mudahan ulasan saya ini bermanfaat bagi sahabat Tani.

Semoga sukses.

Info dan Pemasaran : 0852 6591 8610
  

Kamis, 20 Oktober 2016

CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN KAPUR PERTANIAN

Pertanian adalah salah satu sistem/lembaga/instansi terpadu, terintegritas dan terorganisasi yang berkaitan dengan penyelanggaraan dari produksi hingga konsumsi mengenaik kebutuhan dasar manusia baik budidaya, perbanyakan, perlindungan, sistem pemasaran, pasar dan konsumen terutama berkaitan dengan budidaya tanaman.


Dalam pelaksanaan budidaya tanaman adalah beberapa hal yang menjadi kendala yang dapat menghambat terciptanya iklim budidaya ideal. 


Hal-hal tersebut diantaranya ialah :

1.      Kesuburan tanah berkaitan dengan ketersediaan unsur hara dan jenis tanah.

2.      pH tanah berkaitan dengan penyediaan unsur hara, pertukaran kation dan anion 

         dalam tanah serta populasi mikroorganisme dalam tanah

3.      Mutu dan kualitas benih/bibit berkaitan dengan keunggulan dan varietas dan toleransi 

         benih/bibit terhadap kondisi lingkungan, iklim dan hama  penyakit. 

         Teknik budidaya/Culture Teknis  berkaitan dengan sistem dan cara yang diterapkan     

         dalam budidaya

5.      Pengendalian hama dan penyakit

6.      Pengaplikasiaan fertilizer dan zpt

7.      Iklim pasar berkaitan dengan permintaan, kebutuhan, konsumen, pendistribusiaan,    

         harga dan peraturan dan  komitmen pemerintah baik pusat  maupun daerah

8.      Permodalan


Namun tidak semua hal tersebut perlu dibahas secar mendetail dan terperinci, tetapi ada beberapa hal yang perlu diluruskan menganai pemahaman petani kita tentang pH tanah. Keterkaitan pH tanah terhadap hal-hal yang menjadi kendala budidaya adalah tidak akan terjadinya singkronisasi antara hasil yang diperoleh dan diharapkan oleh pembudidaya meskipun hal lain terpenuhi dan teraplikasikan dengan baik. 


Mengapa?

Karena pH merupakan syarat mutlak yang harus diperhatikan oleh setiap petani/pembudidaya dalam mencapai tujuan utama budidaya yaitu tingkat produksi yang optimal. pH tanah yang tidak ideal untuk jenis tanaman budidaya akan mempengaruhi terhadap tanaman secara langsung maupun tidak terutama :


1.      Penyerapan unsur hara oleh tanaman itu sendiri. Pemahaman ini mudah             

         dijelaskan tanpa rumus maupun teori  yang rumit. 

         Contohnya begini : kita anggap tanaman itu adalah kita, pH tanah adalah terik 

         matahari dan unsur hara dan mineral tanah adalah batu es/es batu.                

         Asumsinya seperti ini “ jika kita bekerja dalam kondisi dibawah terik matahari tentu 

         kita kepanasan dan kehausan, untuk menghilangkan haus dan panas tentunya kita 

         ingin minum air dingin.  Tetapi apa jadinya jika air yang kita akan minum berupa es 

         batu yang tidak cair sama sekali?” Begitu juga halnya dengan tanaman, jika kondisi 

         pH rendah/ dibawah batas toleran tanaham kondisi  seperti kita yang mau minum tapi 

         air nya dalam bentuk batu es? Penjelasan lanjut kita sudah tentu mengerti  dan tidak 

         perlu dibahas panjang lebar


2.      Proses KTK dan KTA dalam tanah terganggu. KTK : koefisien tukar kation dan KTA : 

         koefisien tukar anion.   

         Koefisien pertukaran baik kation maupun anion sangat bergantung pada pH tanah. 

         Imbas dari terganggunya KTK dan KTA ini adalah ketersediaan unsur hara yang 

         diperlukan tanaman.


3.      Populasi mikroorganisme dalam tanah. Pada kondisi pH rendah atau asam 

         mikroorganisme tidak akan aktif  bahkan keberadaannya dalam tanah pun akan tidak 

         ada sama sekali. Manfaat keberadaan mikroorganisme tanah selain membantu 

         proses penguraian dan ketersediaan unsur hara mineral, juga sangat berperan 

         penting dalam proses perbaikan sifat buruk tanah seperti aerase dan drainase, 

         pelapukan bahan organik tanah (BOT), dan masih banyak manfaat lainnya bagi tanah          dan tanaman secara tidak langsung


pH tanah dapat kita ukur melalui beberapa cara maupun dengan indikator-indikator lain. Ada beberapa cara dan indikator yang dapat kita gunakan dalam pengukuran pH tanah yaitu :

1.      Pengujian laboraturium. Cara ini mengunakan beberapa tesk dan pengujian terhadap 

         sampel tanah yang diambil dari beberapa titik dalam suatu luasan lahan tertentu 

         dengan kedalaman sampel yang diambil minimal 1 meter dari tanah bagian atas. 

         Cara ini terbilang cukup rumit dilakukan oleh petani-petani awam bahkan petani           

          yang berpredikat sarjana sekalipun jika tidak menguasai mengenai alat, bahan, dan 

         prosedur kerja labor  analisis tanah

2.      Pengujian dengan kertas lakmus

3.      Pengujian dengan pH meter

4.      Dan yang paling mudah untuk mendeteksi apakah pH tanah rendah atau tidak 

         dengan  melihat indukator yang  ada pada lahan tersebut. Indikator paling mudah 

         ialah  jenis tanaman yang tumbuh dilahan tersebut. Jika tanaman yang tumbuh 

         didominasi oleh tanaman berdaun sempit (alang-alang, pakis, teki-tekian) tanaman                berkayu. Menandakan pH tanah tersebut rendah. Jika yang mendomisai tumbuhan 

         berdaun lebar berarti pH  tanah mendekati atau normal (5,6-6,8). Alangkah baiknya 

         juga dilakukan analisa lebih lanjut baik dengan uji laboraturium, maupun dengan pH 

        meter.


Permasalahannya tidak cukup disini saja, selanjutnya ialah berapa jumlah kapur pertanian yang harus digunakan untuk menaikan pH dari pH tidak ideal/asam menjadi normal. Cara yang paling sederhana dalam menentukan kebutuhan kapur pertanian ialah dengan menghitung selisih antara pH tanah yang dituju dengan pH tanah aktual (pH tanah berdasarkan hasil pengujian dan analisis) dikali 2000 kg kapur pertanian perhektar (untuk menaikan 1 point ph tanah diperlukan 2ooo kg kapur pertanian.sudah baku).

Contoh :

                          Diketahui     :         pH aktual 4,2

                                                        pH yang dituju 5,8

                          Jawab         :         5,8-4,2 x 2000 kg

                          Hasilnya      :         3200 kg/hektar

artinya untuk menaikan pH dari pH sebelumnya 4,2 menjadi 5,8 dalam satu hektar luas lahan diperlukan 3200 kg kapur pertanian.



MARKETING  & INFO :


Hery Sunardi / 0852 6591 8610

email : hery.sunardi@hotmail.com


Danny Liangga / 0852 0762 9988

email : dannyliangga@rocketmail.com



Deni Alisandi Siregar/ 0813 7522 9955